Pesta St. Laurensius, Diakon dan Martir

Bacaan: Yoh 12:24-26

12:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. 12:25 Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. 12:26 Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.

Renungan

St. Laurensius adalah seorang santi besar dan berpengaruh bagi gereja. Dia adalah diakon dan martir. Hidupnya menjadi kesaksian iman yang mendalam sampai ajal menjemput. Kematiannyapun sebagai kesaksian iman yang tidak berkesudahan. Maka gereja memberi peringatan yang khusus, bahkan menjadikan peringatannya dalam tingkatan pesta. Maka teladan hidupnya bisa menjadi teladan kita untuk jaman ini. Menjadi martir dalam konteks hidup kita masing-masing adalah panggilan yang tetap relevan hingga saat ini.

Hidup st Laurensius kiranya hidup yang terpancar dari sabda-sabda Tuhan sendiri. Seperti apa yang kita baca dan dengarkan dari injil hari ini. Sungguh benar apa yang ditulis Yohanes “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.”. Itulah yang dialami oleh st Laurensius. Ia mati sebagai martir Kristus. Kematiannya bukan kematian sia-sia, tetapi justru memberi buah iman dan kehidupan kekal.

Tidak mudah untuk menjadi martir untuk saat ini. Banyak tawaran kemudahan dan kenikmatan duniawi yang bisa membelokkan semangat itu. Lebih mudah untuk mati demi diri sendiri dalam kenikmatan dan kenyamanan, dari pada mati untuk Kristus dalam kemuliaan. Untuk mencapai kemuliaan, Kristus menempuh jalan salib, tidak menghindar dari penderitaan bahkan kematian karena setia pada Bapa. Demikianpun kita, kemuliaan kekal kita perjuangkan dengan menempuh jalan seperti Kristus sendiri.

Tantangan besar bagi kita saat ini adalah apakah kita berani untuk kehilangan ‘nyawa’ karena Kristus. Bisa jadi kita justru menyangkal Dia dengan anggapan supaya kita selamat. Memang mungkin tidak akan terluka, namun demikian kita juga tidak akan mengalami sukacita yang penuh. Hanya nyaman dan aman saja, bukan mengalami damai dan kemerdekaan.

Doa: Tuhan, semoga aku mampu keluar dari diriku sendiri dan semakin setia menjadi murid-Mu. Amin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *