HR Kemerdekaan RI

Bacaan: Matius 22:15-21

Tentang membayar pajak kepada Kaisar

22:15 Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. 22:16 Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. 22:17 Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” 22:18 Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? 22:19 Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. 22:20 Maka Ia bertanya kepada mereka: “Gambar dan tulisan siapakah ini?” 22:21 Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” 22:22 Mendengar itu heranlah mereka dan meninggalkan Yesus lalu pergi.

Renungan

Beragama dan Berbangsa yang benar

Setia kepada masyarakat dan ikut terlibat dalam kehidupan bersama adalah bentuk dari perwujudan iman yang paling konkret dari seorang beragama. Orang beragama jika tidak mau membaur dengan masyarakat sekitarnya menandakan imannya tidak penuh. Setia kepada masyarakat berarti setia juga kepada bangsa dan Negara. Maka seorang beragama sudah semestinya siap menjadi warga Negara yang baik. Hanya dengan cara itu akhirnya siapapun kita mampu hidup saling menghargai.

Demikianlah yang Yesus sampaikan kepada orang banyak, jangan menjadikan agama sebagai alasan untuk tidak memenuhi kewajiban sebagai warga Negara. Demikian juga sebaliknya, jangan menjadikan Negara untuk merusak agama tertentu. Keduanya bisa berjalan seiring beda rasa. Beragama urusannya dengan kebenaran iman dan moral, beregara urusannya kebenaran sesuai hukum yang berlaku. Namun demikian, landasan baik iman dan moral juga sebanarnya menjadi landasan hidup bersama sebagai warga Negara.

Hari Raya Kemerdenaan RI menjadi moment yang terus menerus dipakai untuk mengingatkan tentang komitmen kebangsaan kita. Kita yang berbeda disatukan oleh semangat kebangsaan yang sama. Dihadapan keagungan bangsa Indonesia, kita yang berbeda bisa hidup bersama tanpa harus ada peperangan dan pertengkaran. Itulah kebanggan kita bersama. Dari budaya, agama, bahasa, hampir semuanya berbeda, kita disatukan dan berjuang bersama.

Berbaur bersama yang lain adalah panggilan kita. Ekslusifitas hanya akan membawa kehancuran dan peperangan. Kita sebagai umat Kristiani dipanggil untuk mengenal dan dikenal oleh tetangga kanan kiri kita, mulai dari yang palin dekat. Maka semoga kita tidak berhenti untuk saling menegur sapa dan saling membantu.

Doa: Tuhan, semoga bangsa kami tetap mampu menjadi persatuan dan kesatuan. Jadikanlah kami berani untuk menjadi saudara bagi yang berbeda. Amin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *