Bacaan: Lukas 11:29-32

Tanda Yunus

11:29 Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. 11:30 Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini. 11:31 Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo! 11:32 Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!”

 

Renungan

Bertobat: ’mengubah’ hati Allah

Setiap orang pastilah mempunyai tanda dan ciri khas. Demikian juga dengan kelompok atau komunitas tertentu pastilah punya tanda yang dimaknai bersama. Hanya sekedar melihat tandanya saja, kita bisa mengetahui orang ini dari kelompok mana dan mempunyai semangat apa. Setiap keuskupan juga mempunyai tandanya yang khas, yang menterjemahkan misi kegembalaan uskup setempat. Ada begitu banyak tanda yang dipakai untuk menunjukkan status dan identitas, atau juga misi visi arah kemana hendak melangkah.

Saat masa prapaskah ini, tanda khas yang kita buat adalah dengan pertobatan dan aksi puasa pembangunan. Setiap orang Katolik sudah semestinya melakukan hal ini. Itu sebagai tanda bahwa kita sungguh ikut terlibat dalam pergulatan Gereja, bersama dengan yang lain, juga dari berbagai belahan dunia lainnya. Tanda pertobatan yang paling konkret adalah dengan aksi sosial yang melibatkan kita pada kenyataan orang lain. Itulah wujud tanda iman yang kita hidupi.

Penduduk Niniwe melakukan pertobatan total. Yang melakukan laku tobat bukan hanya manusia, tetapi hewan-hewan juga malakukan hal yang sama. yang bertobat bukan hanya kalangan kecil dan menengah, bahkan raja pun juga melakukan hal yang sama. Ia turun tahta dan melakukan ‘ritus’ pertobatan. Semuanya bersama-sama melakukan pertobatan. Hasilnya? Hati Allah tergerak untuk membatalkan rancangan hukuman yang dirancangnya. Ternyata Allah pun mengubah hati demi umatnya yang kembali kepada-Nya.

Demikian kita mengisi prapaskah ini dengan serangkaian pertobatan, bukan hanya dari dalam hati, tetapi keluar pada aksi yang nyata. Kita tidak pernah mengubah hati Allah, tetapi dengan pertobatan berarti kita mengubah hati kita masing-masing untuk semakin dekat dengan Allah dan juga dekat kepada sesama.

Doa: Ya Tuhan, semoga sabda-sabda-Mu mengubah hatiku menjadi semakin baik. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan kehidupanku. Amin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *