Tanjungkarang – Dalam rangka sosialisasi hasil sidang KWI 2019, Uskup Keuskupan Tanjungkarang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, mengundang para imam yang berkarya di keuskupan untuk mengadakan studi bersama. Selain para imam, uskup juga mengundang para biarawan-biarawati yang berkarya di keuskupan, juga perwakilan pengurus dewan pastoral paroki/unit paroki. Pertemuan ini diadakan di aula Wisma Albertus, Pahoman, Tanjungkarang pada Selasa (19/11/19). Hadir juga beberapa perwakilan dari PMKRI, WKRI, Pemuda Katolik, kelompok SSV, PDKI, institusi sekolah, Bimas Katolik dan kelompok-kelompok lainnya.

Dalam kesempatan ini, pada sesi pertama, Mgr Harun menyampaikan apa yang menjadi studi para uskup Indonesia. Dokumen pertama yang dipelajari bersama adalah Deklarasi Abu Dhabi. Bapak uskup berpesan agar dokumen itu tidak hanya diketahui umat katolik, tetapi semua orang dari agama-agama lain.

Beberapa point penting dari dokumen itu misalnya bahwa setiap orang beragama diajak untuk membangun perdamaian. Perdamaian itu diusahakan misalnya dengan tidak lagi memakai kata minoritas untuk menyembut kelompok agama tertentu yang jumlahnya kecil. PBNU beberapa waktu yang lalu juga sudah sepakat tidak menggunakan kata ‘kafir’ untuk menyebut mereka yang tidak seagama atau sepaham.

Lebih jauh bapak uskup menegaskan bahwa dokumen itu sudah seharusnya bukan hanya kesepakatan dikalangan atas para pemimpin agama, tetapi juga dilaksanakan oleh seluruh lapisan umat beriman. Dokumen itu juga mengajak semua orang untuk saling bekerjasama, dengan siapapun tanpa memandang golongan, agama, kepercayaan, dan sisi-sisi lainnya. Orang lain menjadi saudara dan bukan menjadi musuh.

Para Imam, biarawan biarwati, dan sejumlah umat beriman keuskupan Tanjungkarang mendengarkan oleh-oleh sidang KWI dari Mgr. Yohanes Harus

Bapak uskup berpesan bahwa umat katolik bisa mempunyai peran sebagai perekat diantara berbagai perbedaan yang ada. Umat katolik tidak boleh tinggal diam, apalagi menjadi pemecah dari perdamaian dan persaudaraan. Dalam berbagai kegiatan besar yang bersifat umum, orang-orang katolik diajak untuk ikut ambil bagian berperan serta aktif. Orang katolik menjadi inisiator perdamaian dimanapun dan kapan pun. (ed.mrjo.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *